Kaling Kebonkuri Tepis Ikut Serta “Konspirasi” Pengurugan Jalur Hijau di Sedap Malam

0
59
Material urugan lahan berupa jurang yang cukup dalam

Denpasar – Kepala Lingkungan (Kaling) Banjar Kebonkuri, Kesiman, Denpasar Timur, menepis tudingan bahwa pihaknya ikut serta atau ber “konspirasi” memberi ruang terhadap pengembang melakukan pengurugan lahan pada jalur hijau di kawasan Sedap Malam.

“Proyek itu kan sudah dilakukan sejak akhir Desember 2018. Nah, saya baru menjabat Februari 2019. Jadi ketika saya resmi menjabat, proyek pengurugan lahan itu sudah berjalan,” pungkas Nyoman Mardika selaku Kaling Kebonkuri, ketika dikonfirmasi wartawan, Jumat (8/11).

Mardika melanjutkan, dirinya memang sudah pernah diajak bertemu dengan pihak Lurah oleh pengembang membahas ijin masuk truk. Ketika masih dalam penjajakan untuk ijin , tiba-tiba ada truk masuk mengangkut material dikatakan untuk pengurugan. Pihaknya mengaku tidak bisa berbuat apa-apa.

“Memang saya dengar lahan itu diurug untuk dijadikan tanah kavling. Itu statusnya katanya sih lahan pribadi. Tapi karena memang lalu lalang truk itu melewati jalan yang merupakan bantuan dari pemerintah, wajar jika ada warga keberatan. Akan tetapi pengembang sudah mengatakan siap akan menanggung jika ada kerusakan jalan. Selain itu ada kesepakatan jembatan diperlebar dan ada restribusi Rp 1 juta/are diterima 4 banjar di Desa Gumi Kebonkuri,” ujarnya.

Nyoman Mardika, Kaling Kebonkuri

Disinggung soal rambu larangan truk tidak boleh masuk, belakangan diduga sengaja dihilangkan, Mardika mengaku tidak tahu.

“Saya tidak tahu, apakah dilakukan pihak berkepentingan dengan proyek itu atau bukan. Yang jelas hilangnya tanda larangan tersebut sudah saya sampaikan kepada Lurah,” Ungkapnya.

Adanya polemik keberadaan proyek pengurugan lahan ini, pihaknya menghimbau kepada rekan media agar kasus ini jangan dibesar-besarkan. Beralasan, kalau semua ikut aturan tentu semua bisa dibongkar di lingkungannya.

Sementara Gusti Made Suryani, SE, MAP selaku Lurah Kesiman dihubungi melalui sambungan telpon mengaku belum berani memberikan pernyataan. Pihaknya berjanji klarifikasi setelah rapat hari Senin, tanggal 11 Nopember 2019.

Perlu diketahui kasus pengurugan lahan jalur hijau ini mencuat lantaran ada sorotan dari warga setempat mengungkap ada yang tidak beres. Pasalnya, masuknya proyek dari pemerintah Dinas Pekerjaan Umum Kota Denpasar berupa Rehabilitasi Peningkatan Jaringan Irigasi dengan pekerjaan Saluran Subak Buaji disebut-sebut untuk memuluskan proyek pengurugan.

Truk pengangkut material urugan

Pantauan di lapangan terdapat dugaan ketidaksesuaian antara plang pengerjaan proyek yakni untuk perbaikan irigasi. Nyatanya, saluran parit justru dipersempit dijadikan akses perluasan jalan. Bahkan salah satu parit ada upaya dihambat sebagai saluran air irigasi.

Warga mengaku ewuh-pakewuh lantaran aparat lingkungan disinyalir ikut membantu kepentingan pengembang. Bahkan awalnya ada rambu pelarangan masuk untuk truk depan Gang Titi Batu belakangan malah hilang. Anehnya, sampai berita ini diturunkan rambu pengganti yang hilang terkesan tidak diupayakan aparat terkait.